LEMBARAN

Selasa, 20 November 2012

darimu untukku olehmu buatku

Pernah kita berkunjung di daerah yang kering, daerah yang sudah lama tak diguyur hujan? Lihatlah permukaan tanahnya kering dan mulai banyak dijumpai rekahan-rekahan yang mengangga.Tanah kering yang sudah lama tak dibasahi air, hanya panas terik mentari akan membuat tanah mudah pecah-pecah. Permukan tanah yang retak-retak itu akan hilang retakannya jika hujan datang membasahi daerah itu. Daerah dengan tanah yang retak-retak tersebut tentu menjadi tanah yang tandus. Tak mudah untuk tanaman tumbuh. Hanya semak dan ilalang saja, serta tanaman yang tahan di musim panas saja yang mampu bertahan.
Daerah dengan permukaan tanah yang mudah retak-retak tentu tak baik didirikan bangunan. Karena jika bangunan didirikan di daerah tersebut, bangunan akan mudah rusak dan akhirnya roboh. Mengingat permukaan tanahnya yang mudah kembang kerut. Mengembang jika musim kemarau dan mengkerut jika musim dingin.
Hati dan jiwa kita dapat diibaratkan seperti tanah. Apakah hati kita telah kering kerontang, sehingga hati kita mudah pecah-pecah? Ataukah saat ini hati kita bagai tanah yang subur?
Jika hati kita saat ini merasa kering, tentu setiap masalah yang datang menghampiri kita dapat mudah memecah-mecah hati kita, mudah memecah-mecah perasaan kita menjadi berkeping-keping. Dan akhirnya dengan mudah kita hancur dan tak kan mampu bangkit lagi.
Sebelum kita terlambat carilah segeranya air dari sumber mata air yang tak pernah habis. Dari sumber airNya, basahilah seluruh hatimu, jangan biarkan ada ruang hati yang masih kering. Jangan pernah lelah dan bosan menyirami hati, hari demi hari dengan air segarNya yang menyejukkan.
Menjadikan hati yang subur agar, setiap pribadi yang dekat dengan kita merasakan kesejukan hati kita. Bukan saja membawa kesejukan bagi orang-orang di sekitar kita, namun mampu membawa jiwa dan kepribadian kita tumbuh dan menghasilkan buah yang melimpah.
Setelah merasakan air kesejukanNya, jangan lekas merasa puas untuk hanya menikmati saat itu. Namun segerkanlah hari demi hari. Jangan hanya mencari kesejukan airNya waktu merasa kita mengalami masalah berat, atau sibuk mencari kesejukan airNya waktu menjelang hari raya keagamaan saja. Diluar hari raya ataupun waktu kebahagian datang menghampiri kita, kita lalu lupa kepada sang punya sumber air. Jika itu kita lalukan maka kita samalah dengan tanah yang mudah kembang kerut dan mudah pecah-pecah. Dan bangunan yang didirikan di tanah tersebut tak kan lama bisa berdiri kokoh. Lambat launpun akan retak dan akhirnya roboh

0 komentar:

Posting Komentar